DASAR PEMIKIRAN
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual memiliki 2 (dua) fungsi sentral, yaitu: agent of social control dan agent of change. Fungsi sebagai pengontrol, pemerhati atau pengawas lingkungan sosial di lingkungan kampus ataupun di masyarakat luas merupakan langkah paling urgen yang dibangun untuk mengubah bagaimana perubahan itu terjadi dan memberikan efek yang positif kepada masyarakat internal kampus maupun luar kampus.
Jika kita kaitkan dengan kondisi faktual saat ini di lingkungan kampus Universitas Islam Sumatera Utara, terlihat banyak terjadi ketimpangan antara wacana akademis dengan wacana aktivis. Mengapa hal ini terjadi? Kalau kita kembali kepada permasalahan ini, mahasiswa diharapkan memiliki tingkat kesadaran sosial dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada. Dengan demikian, mahasiswa harus mampu menjadikan ilmu-ilmu yang didapat di perkuliahan menjadi sebuah wujud implementasi keilmuwan tersebut.
Banyak faktor yang mendukung pers mahasiswa sebagai wadah pembelajaran lainnya jurnalis sejati. Salah satu tempat untuk menanamkan idealisme moral, suatu persoalan yang penting dan harus dimiliki oleh seorang jurnalis professional dalam menjalankan tugasnya. Mengapa? Sebab didalam kultur pers mahasiswa, kita akan dibiasakan untuk memiliki independensi tinggi. Satu-satunya keberpihakan adalah pada realitsa itu sendiri.
Adapun minimnya budaya menulis dan membaca dikalangan mahasiswa termasuk faktor-faktor penyebab kemerosotasn jurnalisme kampus. Jamak diketahui, kegiatan menulis di kalangan mahasiswa biasanya hanya dikaitkan dengan kewajiban menulis laporan perkuliahan dan menulis, mahasiswa tidak sedikit yang melakukan penjiplakan (plagiat) atas karya orang lain. Disini sebenarnya, mahasiswa bisa menarik manfaat dari keberadaan jusnalisme kampus. Sebaba sejak awal ia akan mempelajari bagaimana teknik-teknik penulisan sehingga tidak sampai melakukan penjiplakan.
Ide ini muncul dikarenakan adanya sebuah kegelisahan terhadap sikap mahasiswa yang terlalu skeptis dan apatis terhadap seluruh informasi atau isu yang masuk kedalam wacana lingkungan kampus. Apalagi, melihat situasi kampus saat ini, kami mencoba memberikan informasi mengenai permasalahan-permasalahan yang terjadi di kampus. Dengan harapan, mahasiswa memiliki perspektif sendiri mengenai isu-isu tersebut yang nantinya, secara tidak langsung mahasiswa akan membangun wacana kritis di dalam diri mereka sendiri.
Maka dari itu, kami sebagai mahasiswa yang secara langsung menyadari hal tersebut, memiliki ide untuk menciptakan media massa yaitu media cetak berupa Koran atau Surat Kabar dwi mingguan.
Kemudian, ide pembentukan Media MODERATO ini memiliki beberapa pertimbangan yang telah diskusikan, diantaranya:
->Pertama, masih munculnya euphoria-euphoria di dalam pikiran kami terhadap kebebasan berekspresi di kampus.
->Kedua, apakah euphoria-euphoria tersebut akan tetap menjadi tantangan bagi kami jika muncul kembali sikap represif dari pihak civitas akademika kampus apabila di salah satu pemberitaan kami menyangkut kepada pihak-pihak yang menjadi objek pemberitaan?.
->Ketiga, sikap sentimental dari objek pemberitaan terhadap lembaga ini secara organisasi maupun individu yang berakibat terhadap eksistensi kajian kritis lembaga ini.
Namun, berbagai pertimbangan tersebut memicu kami sebagai mahasiswa untuk memberikan yang terbaik dalam arti seluruh pemberitaan kami harus melalui proses yang berimbang untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak dapat terduga. Dan kami juga menjadikan hal-hal tersebut di atas sebagai proses penciptaan demokratisasi di lingkungan kampus Universitas Islam Sumatera Utara.


